Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya
APAKAH harus ada gerakan besar-besaran (pengobatan massal) yang langsung ditangani oleh masyarakat untuk mengobati “penyakit” PLN di Bangka Belitung ini, karena nampaknya Pejabat justru sudah dikunjungi oleh PLN dan menjadi endorse “kematian” listrik menjelang puasa. Parah…!!
PANGKALPINANG,Perkaranews.com-MENJELANG Ramadhan, selalu dan selalu dialami oleh masyarakat Bangka Belitung adalah kegelapan, akibat listrik yang byar pet (kalau bayar nguras dompet) oleh PLN. Saya yang bekerja sebagai penulis, harus double kesabaran berhenti menulis dan menunggu listrik menyala berjam-jam dalam “kepanasan”. Isteri sedang sibuk tangannya mengipasi anak saya yang masih kecil agar tak terganggu tidurnya sebab AC hanya jadi pajangan. Di kamar begitu panas, akhirnya buka baju dan duduk diteras dalam kegelapan seraya membuka HP yang baterrainya tinggal 20 persen.
Saya kira hanya saya yang mengalami “ngalar” diteras, ternyata tetangga sebelah rumah saya, AKBP Arifin bersama isteri pun “ngalar” diteras dalam kegelapan karena didalam rumah terlalu panas. Memakai baju rasanya panas, buka baju artinya membiarkan nyamuk menikmati darah dari kulit tipisku, akhirnya emosi pun kian memuncak sambil berdoa agar penyakit PLN segera sembuh dan kalau tidak, maka saya berdoa mereka yang membiarkan ini terjadi dan menikmati “korupsi” ditengah penderitaan rakyat segera berpenyakit. Itu saja emosi saya malam itu.
Sebab, sudah sekian tahun dulu, saya memimpin demonstrasi, terutama malam hari di kantor PLN, baik di wilayah Selindung maupun di Kantor PLN jalan Koba. Hampir setiap “ngamuk” di PLN, pemberitaan dihalaman muka Koran menampilkan wajah saya yang sedang ngamuk dihadapan petinggi PLN kala itu. Tidak jarang Polisi datang ke rumah dan menasehati agar saya jangan bikin aksi malam hari. tapi, tidak ada kata berhenti selama masih bersemayam rasa “gerigit ati”, begitu biasanya saya menjawab.
Penderitaan Rakyat & Profesionalisme PLN
Bada Maghrib, saya harus melayat keluarga yang meninggal dunia, ditengah melayat kegelapan dialami bersama mayat. Pembacaan Yasiin pun terhenti, lilin tak tersedia dan memang sedang langka. Sebab di rumah pun demikian adanya, isteri dan pembantu mencari keberadaan lilin kemana-mana semua toko menyatakan habis.
Kalau bekerja keras pastinya keringatan, begitu umumnya terjadi. Tapi kalau di Pulau Bangka saat ini, sholat di Masjid bisa keringetan. Tarawih dengan baju “lecep” bermandikan keringat adalah hal yang bikin kita sangat tidak khusyu dalam menjalani ibadah. Mau mengumpat, rasanya kurang etis sebab sedang berada di dalam Masjid. Sepulang dari Masjid, listrik di kediaman saya di Graha Puri Selindung masih menyala. HP dan laptop pun dicash, baru 5 menit nyolokin kedua alat elektronik tersebut, tiba-tiba listrik mati. Kesel, mangkel, ringem, emosi, semua bercampur menjadi satu. Sebab ini sudah sekian tahun berlalu dan selalu saja terjadi, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Akhirnya, saya pun harus pergi dari rumah menuju salah satu café di Pangkalpinang yang listriknya masih menyala. Disini saya bertemu dengan beberapa kawan wartawan 2 malam berturut-turut. 2 malam ini saya ditertawakan kawan-kawan dengan kalimat: “Hahaha… Atok Kulop lah 2 malam ne numpang ngecash dan numpang nulis di café. Ancok imang gawi ne Atok Kulop” begitulah ujar Abot, wartawan harian Babel Pos. Pointnya untuk menulis di laptop dan ngecash HP, saya harus keluar uang buat bayar kopi. Padahal di rumah kopi sudah tersedia oleh isteri. Tapi khawatir minumnya, jangan-jangan isteri salah tarok garam bukannya gula, sebab di rumah sedang gelap gulita, lilin pun tak tersedia.
Sejak bertahun-tahun, lebih dari 15 tulisan saya tentang “keberengsekan” PLN di Babel yang dimuat di media cetak. Namun tak bergeming dan tak akan menghasilkan apa-apa, sebab memang mereka tidak membaca. 2 hari ini, banyak kawan yang mengirim WA, dari minta saya kembali turun aksi malam hari dengan merobohkan pagar PLN dan membakar ban seperti dulu, sampai minta saya menulis keras tentang PLN. Kepada mereka saya jawab: “Percuma, orang PLN nggak pernah baca koran. Jangankan hanya tulisan saya, tulisan Syaikh paling alim dari Makkah atau Malaikat sekalipun, orang PLN tetap tak bergeming”. Tapi demi memenuhi permintaan kawan-kawan, sekali lagi saya menulis tentang PLN walaupun rada langok alias bosan. Soal aksi, ayo aja dah. Udah lama kayaknya urat orasi dan amukan ini tak dipakai. Hehehe…
Memang, bertahun-tahun bahkan mungkin sampai kita semua masuk ke liang kubur, ulah PLN yang tidak professional dalam menangani ketersediaan pasokan listrik memang semakin menghilangkan kesabaran masyarakat. Listrik byarpet bukanlah hal baru bahkan berulang-ulang secara priodik. Wajar saja kalau masyarakat kerap emosi dan menghujat Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini. Pepatah mengatakan: “Keledai saja tidak mau jatuh ke lobang yang sama”, tapi bagaimana bisa para petinggi PLN bisa membiarkan PLN selalu dihadapkan para persoalan yang sama, yakni sepanjang tahun pelayanan yang jelek, krisis listrik, kerusakan mesin dan sebagainya. Bukankah kita rakyat tak bisa telat membayar listrik? Wajar banget jika kita membutuhkan pelayanan yang baik dan professional.
Mendatangi pejabat dan mengendorse pemberitahuan dan meminta rakyat bersabar itu bukan solusi cerdas, akun resmi PLN di medsos pun sangatlah tidak cerdas bahkan memuakkan. Melalui instagram saya mencoba men-tag akun resmi PLN Babel, tak pernah dijawab dan bahkan nampak sekali pemegang akun PLN adalah orang yang sangat-sangat tidak cerdas dan perlu pelatihan dan perlu sesekali ketemu saya buat ngobrol. Pengen tahu aja isi kepala dan bagaimana pandangan sosialnya tentang masyarakat Bangka Belitung.
Ketika hujatan dan emosi itu terjadi, sangatlah wajar. Karena akibat pemadaman sekenek perot alias sak enak e udel e dewe yang dilakukan oleh PLN tentu masyarakat dan para pengusaha dan pihak industri sangat dirugikan. Kerugian pertama adalah terjadinya ganguan pada industri. Padamnya listrik mengakibatkan industri harus mengoperasikan genset yang barang tentu harus menggunakan solar. Selanjutnya biaya operasi semakin besar dan beban beli masyarakat pun semakin tinggi. Juga ketidakstabilan pasokan daya listrik sangat berpotensi merusak mesin-mesin produksi.
Lalu bagaimana dengan kondisi rumah tangga? Sudah barang tentu selain meningkatnya darting (darah tinggi) karena emosi, kita juga mengalami kerugian materi. Misalnya harus membeli genset atau setidaknya lampu cash minimal 2 buah untuk 1 rumah atau yang pasti harus menyiapkan lilin. Belum lagi kerusakan alat rumah tangga akibat pemadaman mendadak seperti TV, tape, kulkas, komputer, rice cooker, mesin cuci, lampu, instalasi listrik dan sebagainya. Pelayanan masyarakat di kantor-kantor pemerintahan pun menjadi terhambat dan akhirnya membuat para abdi negara menjadi malas dan tidak cekatan. Ternyata sangat besar sekali imbas dari akibat penyakit kronis PLN ini.
Sebenarnya bagaimana sih manajemen PLN di negeri yang sudah puluhan tahun merdeka tapi nggak pernah selesai ini? wajar saja jika masyarakat awam seperti kita ini bertanya ada apa dengan manajemen PLN di negeri ini? Bukankah kita sudah sekian puluh tahun merdeka? Kok persoalan listrik masih saja menjadi persoalan yang tak berkesudahan?
Jika permasalahan sama bertahun-tahun tak kunjung selesai, artinya nenek-nenek ompong yang tak pernah duduk di bangku sekolah pun paham bahwa itu artinya ada yang salah terhadap pengelolaan PLN selama ini. Salah manajemen, salah atur, salah orang dan salah-salah lainnya. Alasan akibat kerusakan mesin menunjukkan bahwa selain tidak profesionalnya pihak pengelola PLN juga teknologi yang digunakan adalah teknologi usang yang tentunya sangat tidak efisien dan boros.
Sudahkah diaudit teknologi PLN yang mereka gunakan, mislanya oleh BPPT (Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi). Pertanyaannya, jika teknologinya saja tidak boleh diaudit, bagaimana dengan manajemen keuangannya? Kalau pemadaman selalu dilakukan dengan membagi-bagi wilayah pemadaman semaunya, berapa banyak biaya operasional? Lantas bagaimana itu pembiayaan opersional, apakah jelas atau tidak?
Masyarakat sudah terlalu lama diam dan hanya mengomel saja yang membuat tekanan darah semakin tinggi. Walaupun PLN setiap kali akan menaikkan TDL (Tarif Dasar Listrik) selalu diiringi dengan adanya pemadaman. Jangan-jangan juga ini adalah trik alias modus yang ingin menaikkan daya makanya TDL harus dinaikkan. Kedepan bahkan mulai sekarang tak seharusnya lagi masyarakat diam seperti sekarang ini. Setiap PLN ingin menaikan TDL dengan tujuan agar tidak terjadi lagi pemadaman, mereka harus membuat surat pernyataan didepan notaris dengan para pelaku usaha juga masyarakat.
Artinya, jika pemadaman lebih dari 1 jam, PLN harus memberikan kompensasi kerugian kepada masyarakat juga para pelaku usaha atas kerugian yang dialami. Karena selama ini pihak PLN bagaikan dewa yang tak boleh tersentuh tangan manusia, sedangkan pelaku usaha dan masyarakat selalu pada posisi yang dirugikan. Dengan langkah kompensasi ini, PLN menjadi berhati-hati dan harus membuktikan janji-janji yang selama ini dikoar-koarkan dan slogan-slogan manis yang bikin perut mual membacanya.
Selain itu, wacana pengadaan listrik oleh pihak swasta untuk mengatasi kurangnya pasokan listrik adalah langkah yang tepat. Sehingga listrik tak lagi di monopoli oleh PLN yang selama ini berbuat semena-mena. Karena dapat dipastikan, jika kekuasaan dimonopoli dalam bidang apapun baik bidang usaha maupun jabatan, pasti akan terjadi kesewenang-wenangan dan perilaku korupsi tumbuh subur.
Pihak PLN harus segera berubah, tak boleh lagi menganggap gerutu, ocehan dan kritikan masyarakat sebagai angin lalu saja. Tapi entahlah jika pepatah: “anjing menggonggong kafilah berlalu” sudah mendarah daging dalam tubuh dan otak para pengelola PLN. Kalau iya, sungguh sangat sadis dan sangat tidak profesional alias TERLALU (Kata Bang Haji Rhoma Irama). Apalagi jajaran pimpinan di PLN sepertinya sudah terbiasa menjual Jambu (Janji Busuk) dan dipenuhi orang-orang yang terlatih untuk tebal muka alias muka tembok, kulit badak, kuping panci!.
Inilah yang kemudian di beberapa daerah masyarakat mulai hilang kesabaran dengan menyerang kantor PLN, seperti yang terjadi beberapa tahun silam di Sanana Maluku Utara, di Ternate, di Tanjung Pinang, Lampung, Sumatera Utara dan berbagai kota lain. Kalau aksi unjuk rasa tentu sudah tak terhitung lagi. Nah, bagaimana dengan masyarakat Bangka Belitung? Kalau ada demonstrasi besar-besaran jangan lupa ajak saya, insya Allah pasti saya ikut teriak!.
Semoga Ramadhan ini penyakit kronis PLN segera sembuh dan kita pun bisa segera terlepas dari belenggu kegelapan akibat ulah PLN yang Penyakitnya Lah Nue ini. Jadi jangan mimpi melihat kemajuan di Bangka Belitung, siapa pun pemimpin dan wakil rakyatnya jika masalah listrik saja masih melempem. Saya kadangkala berpikir, seharusnya seluruh Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, Walikota dan para wakilnya) bersama seluruh Wakil Rakyat se-Bangka Belitung ini kompak dan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran bersama rakyat di kantor PLN. Mereka kan dipilih langsung oleh rakyat, seharusnya ngerti dan beraksi untuk rakyat? Sekali-kali dong pejabat itu demonstrasi demi rakyat, jangan cuma petantang-petentang studi banding terus keluar daerah atau keenakkan duduk di kursi empuk!
Cukup sekian tulisan ini, karena di rumah saya sedang PLN (Padam Listrik Nih….) alias mati lampu, kelem sigep!! (Rilis/Yuko)
Salam Kelem Sigep!!












