Fasilitas Sumur Pantai Bio Dirusak Oknum, SMSI Bangka Bakal Lapor Polisi

BANGKA, PERKARANEWS.COM – Kondisi kondusif di kawasan Pantai SMSI atau yang dikenal dengan Pantai Bio, Pulau Tiga, kembali terusik. Belum usai perkara penataan lahan, kini muncul aksi anarkis berupa perusakan fasilitas sumur (perigi) yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab.

​Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, perusakan ini diduga dipicu oleh ketidaksenangan oknum yang mengaku nelayan atas penutupan sumur tersebut. Padahal, penutupan dilakukan demi menjaga sterilitas air yang akan digunakan sebagai bahan baku produksi gula kelapa serta keperluan ibadah di mushola dan MCK.

​Ketua SMSI Bangka, Ahmad Wahyudi, menyatakan kekecewaannya yang mendalam atas insiden ini. Menurutnya, tindakan memasukkan tumpukan semen dan kayu ke dalam sumur yang sudah dibersihkan adalah tindakan yang tidak mencerminkan etika masyarakat Melayu Bangka Belitung.

​”Kami sangat menyesalkan aksi ini. Niat kami baik, sumur yang tadinya kotor kami kuras dan bersihkan untuk kepentingan bersama. Jika nelayan butuh air, kami sudah sediakan tandon/tedmon. Tinggal siapkan selang saja. Mengapa harus merusak?” tegas Ahmad Wahyudi, Kamis (16/04).

Bacaan Lainnya

​Ia menambahkan bahwa penutupan sumur bertujuan agar sumber air tetap bersih dan tidak bau busuk (anyir) saat digunakan pengunjung untuk berwudhu atau mandi.

“Ini fasilitas yang kami bangun dengan biaya sendiri untuk meningkatkan ekonomi daerah. Kalau dirusak begini, artinya ada upaya menghambat kemajuan pariwisata di sini,” lanjutnya.

Selain perusakan, muncul permasalahan baru terkait klaim lahan. Kebun kelapa yang selama ini dirawat dan ditanam oleh keluarga Erzan (pemilik lahan), tiba-tiba diklaim sebagai aset desa oleh Kepala Dusun Deniang.

​”Sangat naif. Selama bertahun-tahun pantai ini terbengkalai, pihak desa tidak pernah peduli dengan kebersihan, keamanan, apalagi menanam pohon kelapa di sana. Begitu SMSI Bangka masuk dan mulai ramai dikelola, tiba-tiba muncul klaim aset desa,” ungkap Wahyudi dengan nada getir.

​Menurut Wahyudi, klaim sepihak ini membingungkan karena tidak ada dasar historis maupun administratif yang kuat mengenai kepemilikan desa atas pohon kelapa yang ditanam secara pribadi oleh warga.

Menyikapi perusakan fasilitas umum tersebut, SMSI Bangka menegaskan tidak akan tinggal diam. Pihaknya berencana melaporkan kasus perusakan ini ke pihak berwajib agar ada efek jera bagi oknum yang mencoba bermain di “air keruh”.

​”Kami akan laporkan ke pihak berwajib. Kami juga meminta Camat Riau Silip untuk turun tangan menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai ada kepentingan pihak tertentu yang ingin menguasai pantai dengan cara-cara yang tidak benar,” pungkasnya.

​Pantai Bio yang semula digadang-gadang menjadi destinasi wisata unggulan kini tengah diuji oleh konflik sosial dan ego sektoral yang justru merugikan potensi pendapatan asli daerah (PAD) serta kenyamanan wisatawan.(Yuko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *