PANGKALPINANG, PERKARANEWS.COM – Program gerakan bersih-bersih lingkungan yang belakangan ini gencar diprakarsai oleh Walikota Pangkalpinang, Profesor Safarudin, menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Program yang digadang-gadang sebagai bukti kepedulian terhadap keasrian kota tersebut dinilai publik hanya sebatas lip service atau panggung pencitraan belaka demi mendongkrak popularitas semata.
Berdasarkan hasil pantauan langsung awak media di lapangan pada Rabu (3/6), ditemukan kontradiksi yang sangat mencolok. Di satu sisi, ketika kegiatan seremonial dilangsungkan di tingkat kelurahan, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang bersama pasukannya tampak begitu antusias dan gegap gempita membersihkan rumput keliaran dan sampah di pemukiman warga.
Namun ironisnya, pemandangan berbanding terbalik justru tersaji di pusat nadi pemerintahan mereka sendiri. Lingkungan perkantoran Pemkot Pangkalpinang yang notabene merupakan “wajah” atau etalase utama dari Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung, justru tampak kotor, kumuh, dan terkesan ditelantarkan tanpa ada perhatian serius.
Dugaan bahwa program ini hanya “ala kadar” dan sekadar formalitas diperkuat oleh sejumlah bukti visual yang berhasil diabadikan di area strategis pemerintahan.
Trotoar dan bahu jalan utama terbengkalai, terlihat dengan jelas kondisi trotoar jalan perkantoran yang dipenuhi tumpukan daun kering yang berhamburan di tepian. Kondisi ini membuat pemandangan estetika pejalan kaki menjadi sangat kumuh dan sumpek.
Tampak tanaman liar dan rumput tinggi dibiarkan tumbuh subur di sepanjang median jalan serta area pembatas. Alih-alih dirawat sebagai ruang terbuka hijau yang rapi, kawasan ini justru tampak seperti area yang tidak berpenghuni.
Hal yang paling memprihatinkan terlihat di depan Kantor Inspektorat Daerah Kota Pangkalpinang institusi yang seharusnya menjadi pengawas rumput-rumput liar tumbuh tinggi menjulang di area halaman depan dan pembatas jalan, menciptakan kesan kumuh dan tidak terurus.
Kondisi semrawut ini memantik pertanyaan mendasar di kalangan masyarakat. Apakah Profesor Safarudin selaku Walikota tidak pernah turun langsung memantau kondisi OPD-nya sendiri? Ataukah fasilitas mewah yang melekat pada jabatan telah membutakan mata barisan pemangku kebijakan?
“Entah apa yang dipikirkan para pejabat kita. Mungkin karena setiap hari menaiki mobil sedan mewah dengan kaca yang hitam pekat, sehingga mereka tidak lagi peduli atau bahkan tidak melihat sama sekali betapa kotornya lingkungan perkantoran yang ada di wilayah mereka sendiri,” cetus salah satu warga yang melintas di kawasan perkantoran Pemkot.
Publik menilai, sangat tidak elok apabila Pemkot Pangkalpinang sibuk mengerahkan pasukan untuk membersihkan area luar demi konsumsi media publikasi, sementara rumah tangga dan halaman kantor mereka sendiri dibiarkan kotor dan penuh semak belukar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi atau klarifikasi dari pihak Walikota Pangkalpinang maupun Dinas Lingkungan Hidup terkait ketimpangan pengelolaan kebersihan di wilayah pusat pemerintahan kota tersebut. Masyarakat mendesak agar program kebersihan ini dievaluasi secara total, agar tidak menjadi preseden buruk bahwa kepedulian lingkungan hanya tajam ke luar namun tumpul di dalam. (Yuko)












