Arsa Pictures Garap Film Dokumenter Geger Sepehi, Bersumber Manuskrip Asli

JAKARTA,PERKARANEWS — Rumah produksi Arsa Pictures akan menelurkan sebuah film dokumenter tentang perjuangan Raja Sri Sultan Hamengkubuwono (Sultan HB II), ketika Kraton Yogyakarta dihadapkan penyerbuan pasukan Inggris, pada 19-20 Juni 1812, yang kemudian dikenang sebagai peristiwa Geger Sepoy atau Geger Sepehi.

Menariknya, film ini akan digarap sesuai dengan kisah yang tertuang dalam manuskrip asli, sehingga film dokumenter ini akan mengungkap kejadian yang sesungguhnya pada peristiwa Geger Sepehi.

Pembuatan film ini pun mendapat respons positif dari Trah Sultan HB II, yang diakui oleh perwakilan keluarga, yakni Fajar Bagoes Poetranto.

Disebutkannya, saat ini melalui Yayasan Vasiatii Socaning Lokika bekerja sama dengan Yayasan Kapuk Salamba Arga, mereka dalam masa pembelajaran naskah-naskah kuno manuskrip asli.

Bacaan Lainnya

“Kami sudah bekerja sama dengan Yayasan Kapuk Salamba Arga yang didirikan oleh ahli filologi KRT Manu J Widyaseputra. Selain itu, pusat studi pembelajaran naskah kuno rencananya akan didirikan juga di Wonosobo, dan Yogyakarta,” katanya, Selasa (6/2/2024).

Sementara itu, Suharno selaku penulis skenario menyebutkan, film tersebut akan digarap secara maksimal untuk mengenalkan, sekaligus mengedukasi masyarakat Indonesia dan dunia terhadap pentingnya peran, dan perjuangan Sultan HB II kala menghadapi penjajah Inggris, yang kini dikenang kuat sebagai salah satu perang paling bersejarah di Indonesia.

“Kebenaran dari peristiwa Geger Sepehi ini akan kami ungkap dengan sebenarnya berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan, dengan melibatkan narasumber yang sangat kompeten berdasarkan manuskrip asli tulisan tangan Sri Sultan Hamengkubuwono II,” kata Suharno.

Peristiwa Geger Sepoy juga telah menguras seluruh kekayaan materi maupun keilmuan kraton. Seluruh naskah sejarah yang ada di kraton habis diboyong oleh Raffles, dan kebanyakan dibawa ke Inggris, dan sekarang disimpan di Bristish Library. Padahal, di dalam naskah tersebut banyak menceritakan  sejarah panjang masyarakat Jawa yang kental akan berbagai macam bentuk filosofi. (Yuko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 Komentar