PT GML Tolak Tuntutan Warga: Ketika Profit Perusahaan Malaysia Lebih Berharga dari Hak Desa.

BANGKA, PERKARANEWS.COM – Sepertinya “bertetangga yang baik” hanyalah slogan usang bagi PT Gunung Maras Lestari (GML). Perusahaan sawit asal negeri jiran, Malaysia, ini sukses memancing amarah warga dari 8 desa di Bangka. Bukannya membawa kesejahteraan, kehadiran mereka justru memicu aksi massa besar-besaran dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat yang merasa haknya hanya berakhir di atas kertas. Senin,(9/2)

 

Hari ini, perwakilan massa hadir sebagai penyambung lidah rakyat yang sudah terlalu lama bungkam. Namun, sambutan PT GML sungguh bisa ditebak Menolak. Dengan angkuhnya, manajemen menyatakan tidak bisa memenuhi poin-poin tuntutan yang dibawa aliansi. Sebuah respons yang seolah menegaskan bahwa suara rakyat hanyalah gangguan bagi mesin pencetak uang mereka.

 

Bacaan Lainnya

Koordinator aksi membacakan poin tuntutan dengan nada tinggi, mencerminkan rasa muak atas ketidakadilan yang terjadi.

• Sesuai aturan perundang-undangan, perusahaan wajib memberikan plasma 20%. Namun faktanya? Rakyat hanya bisa menonton truk-truk sawit lewat tanpa merasakan tetesan hasilnya.

 

• PT GML diduga kuat melakukan praktik “bawah meja” berupa gratifikasi atau suap kepada 6 Kepala Desa. Sebuah langkah cerdas jika tujuannya adalah memecah belah warga dan membungkam integritas pemimpin lokal.

 

• Mahasiswa menegaskan posisi mereka sebagai benteng terakhir rakyat. Mereka mengutuk perampasan hak yang dilakukan secara sistematis oleh manajemen perusahaan.

• Kesabaran ada batasnya. Jika dalam satu minggu tuntutan ini tetap masuk ke “tong sampah” manajemen, massa mengancam akan melumpuhkan total akses jalan PT GML.

 

“Kami tidak datang untuk meminta sedekah, kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak kami menurut hukum. Jika moralitas perusahaan sudah hilang karena uang, maka biarkan perlawanan kami yang bicara,” ujar salah satu orator mahasiswa.

 

Dugaan gratifikasi yang sudah liar beredar di media sosial seolah menjadi bumbu penyedap betapa carut-marutnya manajemen PT GML. Masyarakat kini hanya punya satu pilihan.

 

Satu minggu ke depan akan menjadi pembuktian, apakah PT GML akan memilih jalur dialog yang bermartabat, atau tetap bertahan dengan sikap keras kepalanya hingga akses jalan mereka benar-benar terkunci oleh amarah massa. (Yuko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *