Kiamat Ekologi Mengintai? Prediksi Air Laut Babel Mendidih 704 Derajat, PT Thorcon Bungkam Seribu Bahasa!

PANGKALPINANG, PERKARANEWS.COM – Gemuruh diskusi publik mengenai rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Negeri Laskar Pelangi mendadak berubah menjadi panggung “pengadilan” data yang menggetarkan jiwa. Dalam forum bertajuk “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung Diskusi Data dan Fakta” yang digelar di Hotel Aston Pangkalpinang, Sabtu (7/2), aura ketegangan memuncak hingga menembus langit-langit ruangan.

 

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka, Ahmad Wahyudi, hadir sebagai sosok yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan “beracun” bagi pihak pengembang. Bak petir di siang bolong, Wahyudi membombardir PT Thorcon Power Indonesia dengan fakta-fakta mengerikan yang membuat pihak perusahaan tampak kehilangan kata-kata.

 

Bacaan Lainnya

Wahyudi menyoroti klaim suhu termal dahsyat sebesar 704 derajat Celsius yang diprediksi akan menyemburkan arus panas ke dasar laut. Dengan kalkulasi yang menggetarkan nyali, ia menyebut dampak panas ini akan merayap sejauh 32 kilometer.

 

“Hanya dalam waktu tiga tahun, air di Pantai Pasir Padi yang kita cintai ini tidak akan lagi menyegarkan, melainkan berubah menjadi hangat, seolah-olah kita sedang berenang di dalam kuali raksasa!” seru Wahyudi dengan nada yang menggelegar.

 

Bukan hanya soal air laut yang “terpanggang”, Wahyudi juga menyuarakan jeritan batin masyarakat yang kini didera Radiophobia akut. Ketakutan akan ledakan nuklir yang bisa meluluhlantakkan peradaban Babel, serta kekhawatiran penyalahgunaan teknologi ini, menjadi hantu yang nyata di tengah masyarakat.

 

Meskipun proyek ini disebut-sebut bakal diguyur dana fantastis bernilai belasan juta dolar Amerika dari perusahaan Amerika Serikat, uang tersebut seolah tak mampu membeli jawaban yang pasti.

 

Ironisnya, di hadapan sorot mata publik yang haus akan kejelasan, pihak PT Thorcon Power Indonesia justru dinilai membeku. Alih-alih memberikan solusi konkret atas dampak sosial dan ekologi yang bisa menghancurkan tatanan alam di Pulau Gelasa, mereka justru hanya mampu menyangkal tanpa data tandingan yang berarti.

 

Diskusi ini menyisakan sebuah kesimpulan pahit pengembang dinilai hanya menjadi “Singa di Atas Kertas” yang menguasai teori setinggi gunung, namun nol besar dalam persiapan mitigasi bencana nyata di lapangan. Publik kini bertanya-tanya, apakah Babel sedang menyambut masa depan gemilang, atau sedang menggali lubang kehancurannya sendiri?. (TIM SMSI BANGKA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *