Investigasi SMSI: Jaringan Rentenir Desa di Basel Paksa Siswa SMA Jadi Kriminal?

PANGKALPINANG, PERKARANEWS.COM – Tabir gelap praktik pinjaman online (pinjol) ilegal alias rentenir yang menyasar dunia pendidikan di Bangka Selatan (Basel) akhirnya terkuak. Tak main-main, investigasi terbaru mengungkap bahwa korban bukan lagi hitungan jari, melainkan mencapai ratusan siswa SMA yang kini terjebak dalam pusaran utang yang mencekik.

 

Berdasarkan temuan tim SMSI Bangka pada Minggu (18/1/2026), fenomena ini sejatinya telah mengakar sejak tahun 2025. Namun, kasus ini seolah tertutup rapat lantaran para orang tua korban merasa malu dan enggan melapor ke pihak berwajib.

 

Bacaan Lainnya

Praktik ini bekerja dengan sistem yang sangat rapi dan terputus. Seorang aktivis sosial di Bangka Selatan membeberkan fakta mengejutkan seorang pelajar SMA bisa menanggung utang hingga Rp70 juta. Padahal, pinjaman awal hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

 

Bunga yang berlipat ganda membuat utang membengkak dalam waktu singkat. Jaringan ini diduga melibatkan sedikitnya tujuh peran berbeda dalam setiap operasinya, mulai dari. Pencari Korban Bertugas memetakan siswa yang rentan di sekolah-sekolah. Penyedia Dana Eksekutor yang memberikan uang tunai. Tim Penagih (Debt Collector): Bertugas melakukan teror, ancaman fisik, dan intimidasi psikologis jika pembayaran macet.

 

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa pusat pergerakan sindikat ini berada di Desa Nibung. Lebih memprihatinkan lagi, muncul dugaan keterlibatan seorang anak dari mantan anggota dewan dalam pusaran bisnis haram ini. Posisi korban yang masih di bawah umur menjadikan mereka sasaran empuk untuk ditekan secara mental.

 

Dampak dari jeratan rentenir ini sangat fatal. Karena jumlah tagihan yang tidak masuk akal, para pelajar SMA ini berada di bawah tekanan hebat. Jika orang tua tidak mampu melunasi, para siswa ini rentan terdorong melakukan aksi kriminal seperti pencurian harta milik orang tua, tindakan kriminalitas jalanan, bahkan muncul risiko depresi berat hingga percobaan bunuh diri.

 

“Ini adalah ancaman nyata bagi generasi muda kita. Mereka dipaksa melakukan kejahatan di luar nalar hanya untuk menembus utang yang awalnya sangat kecil,” ujar perwakilan tim investigasi SMSI Bangka.

 

 

Melihat masifnya korban yang sudah tersebar di desa-desa, Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didorong untuk segera bertindak cepat. Perlu adanya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Polri, TNI, dan Tim Cyber untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus.

 

Langkah ini penting untuk mendeteksi seberapa dalam jaringan ini telah menyusup ke tujuh kabupaten/kota di Bangka Belitung. Tanpa penanganan serius, dikhawatirkan generasi muda Bangka Belitung akan menjadi alat bagi sindikat kriminal di masa depan akibat tekanan utang piutang. (Yuko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar