PANGKALPINANG, PERKARANEWS.COM – Kepala Bidang Destinasi Pariwisata dan Industri Pariwisata Dispar Kota Pangkalpinang, Riharnadi, terus mematangkan kesiapan Ekowisata Selindung Jerambah Gantung (Sejagat) sebagai destinasi unggulan berbasis lingkungan. Hal ini ditegaskannya saat mendampingi sejumlah pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang dalam program inovatif “Office to Sejagat”, Selasa (20/01).
Riharnadi menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar kunjungan wisata biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkenalkan konsep ekowisata edukatif terpadu sebelum peresmian penuh yang direncanakan pada Februari 2026 mendatang.
Dalam arahannya, Riharnadi memberikan catatan kritis mengenai ancaman terhadap ekosistem Sungai Kerabut, terutama penebangan hutan mangrove untuk area pemukiman. Padahal, kawasan ini merupakan benteng alam seluas ±12 hektar yang berfungsi sebagai penahan abrasi dan penyerap karbon.
“Kami berharap melalui program ini, para pegawai dapat membantu mempromosikan pentingnya menjaga jarak bangunan 50-100 meter dari bibir sungai,” tegas Riharnadi. Ia menambahkan bahwa pelestarian mangrove sangat vital karena kawasan tersebut menjadi rumah bagi 100 hingga 200 ekor buaya muara serta berbagai biota sungai seperti udang galah (satang).
Demi menjamin keamanan di habitat reptil besar tersebut, Riharnadi memastikan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat:
– Keamanan Fisik: Seluruh peserta wajib mengenakan pelampung selama menyusuri sungai.
– Penghormatan Tradisi: Pengunjung dilarang membawa barang tertentu seperti telur atau ketan sesuai kearifan lokal.
– Aturan Perilaku: Dilarang berperilaku gurak (bahagia berlebihan) dan dilarang menyentuh air sungai demi menghindari risiko serangan buaya muara.
Kepada para peserta, Riharnadi memaparkan enam sub-program spesifik yang dirancang untuk menjaga keseimbangan alam dan budaya:
– Mang-Jagat (Mangrove Jaga Habitat): Pelestarian vegetasi seperti Bakau Merah dan Bakau Putih di sepanjang 3,2 kilometer aliran sungai.
– Yak-Jagat (Yuk Wisata Alam Konservasi): Edukasi mengenai peran buaya muara sebagai penyeimbang ekosistem.
– Tor-Jagat (Tangkap Organik Ramah): Demonstrasi penggunaan alat tangkap tradisional seperti pintor dan bubu yang tidak merusak habitat.
– Cing-Jagat (Cinta Mancing, Jaga Alam): Edukasi etika memancing berkelanjutan.
– Kerabut-Jagat: Pelestarian sejarah, budaya, dan kuliner khas masyarakat pesisir Sungai Kerabut.
– School to Sejagat: Program edukasi lingkungan yang digratiskan bagi siswa sekolah di sekitar Kecamatan Gabek.
Melalui program “Office to Sejagat”, Riharnadi optimis Ekowisata Sejagat akan menjadi pusat edukasi lingkungan yang mampu merubah persepsi wisata di Bangka Belitung, sekaligus mendukung keberlangsungan sumber air masa depan di Kota Pangkalpinang. (Imelda)












